Selasa, 19 Agustus 2014



DIA YANG BERBEDA

Ketakutan masa MOS di SMA tak terasa, tiga hari pun berasa seperti sehari. Kakak kelas yang galak menakutkan dan seenaknya sendiri,ternyata tidak ada. Yang ada hanyalah kakak kelas yang ramah dan baik. Seperti itu yang dirasakan oleh Mira saat bertemu sesosok kakak kelas yang memikat perhatian nya.
“ Dek, berikan surat cinta kalian kepada kakak osis yang ada disini. Segera ya “ kata kakak ketua osis yang memandu lewat pengeras suara.
Mira mulai berdebar jantungnya, takut apa yang akan terjadi. Di kerumunan Agam ia menghampiri, “ Kak ini untukmu. “ kata Mira saat memberikan surat cinta itu pada Agam. Agam pun membalas dengan senyuman dan ucapan terimakasih.

MOS pun berakhir dengan indah. Saat pulang sekolah Agam meminta pin BB Mira. Betapa senangnya hati Mira surat cinta yang hanya tugas MOS di beri tanggapan yang baik oleh Agam. Semenjak itu mereka BBMan.
“ hai dek ini aku agam, “ pesan BBM Agam yang membuat Mira begitu bahagia.
*****
Berapa hari mereka BBMan semu nya terasa indah untuk Mira, yang awalnya hanya teman kini timbul rasa di hati Mira. Perhatian Agam membuat Mira jatuh hati. Sehari Mira ingin memandangnya saat di Sekolah. Ingin ia menyapa namun tak berani mulut berucap. Mereka hanya saling menyapa lewat layar telpon genggam nya, tak berani memandang. Karena rasa malu yang ada dihati Mira.
Sehari Mira tak bisa lewati tanpa kabar dari Agam, padahal Agam kakak kelasnya kelas 3 SMA. Mira harus mengerti dan memahaminya. Perhatian yang tadinya sering terlontar kini menghilang. 24 jam menjadi 4jam, setiap 4 jam ada saja perhatiannya yang membuat Mira merasa Agam memiliki rasa lebih untuk Mira.
“ Dek, maaf aku habis belajar, kamu jangan lupa sholat ya “ pesan singkat yang dikirim Agam untuk Mira.
Dengan cepat Mira menjawabnya dengan mengingatkan kembali kepada Agam. Rasa perhatian Agam membuat Mira yakin untuk menunggunya. Berkali - kali ia mengatakan jika nanti setelah Agam lulus Agam akan menemani Mira.
Dengan perkataan Agam seperti itu Mira mempercayainya. Mira menunggu kapan kelulusan Agam, karna  ia merindukan Agam yang perhatian seperti dulu.
Terkadang Agam mengabari Mira dahulu jika tidak Mira yang menanyakan kabarnya melalui telepon genggamnya.
“ Hai mas, lagi belajar? “
“ iya dek sebentar. “
Terkaget Mira membaca balasannya betapa berberbedanya Agam kepada Mira, yang dulu manis sekarang terasa pahit, yang dulu perhatian kini seperti tak mengenal.
****
Mira sabar menunggu Agam. Mendoakan yang terbaik untuknya. Menanyakan kabarnya setiap saat, selalu ada untuk waktu luang Agam. namun menjelang pengumuman tak ada tanda Agam untuk berubah seperti awal mereka kenal. Agam berbeda, emosinya yang tinggi bahasanya yang kasar membuat Mira meneteskan air matanya.
Mira berfikir ia menunggu namun ini jawaban Agam. Mira bergantung pada Agam karena harapan yang Agam berikan. Mira terus menjadi pengagum Agam melihat setiap kabar darinya namun Agam terus memarahinya.
“ Mas? Kamu kenapa sekarang menjadi seperti ini? “ tangisan Mira saat mengungkapkan perasaan nya.
“ Apa sih dek? Gak usah Tanya Tanya lagi! “ jawaban Agam.
Menagis lah Mira sekencang – kencangnya, ia keluarkan setiap keluhan hatinya pada air mata yang keluar dari pipinya. Mira lelah namun Mira tak yakin tuk pergi darinya. Mira berharap suatu saat Agam akan kembali. Tetapi kenyataan berbalik pada keyakinan nya.
Berkali Mira mengalihkan pandangan pada pria namun tak ada yang menggantikan Agam di hatinya. Agam telah berbeda berkali – kali Mira mengatakannya namun tak ada perubahan pada Agam.
Mira diam, dengan berbaring di kasurnya dengan berfikir harus bagaimana ia. Pikiran nya membuka hatinya bahwa kini bukan saatnya untuk diam di tempat memikirkan Agam, urusan Mira masih banyak yang harus diselesaikan. Hingga mira memutuskan untuk berserah diri pada Allah dan fokus pada urusan nya.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar